Senin, 27 Februari 2017

Mengantri dan matematika

Belajar dari Hal yg kecil... 😉 MENGAPA GURU DI NEGARA MAJU LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA ? INILAH JAWABANNYA : Seorang guru di Australia pernah berkata : “Kami tidak terlalu khawatir anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika”. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.” Saya tanya "kenapa begitu?” Jawabnya : 1. Karena kita hanya perlu melatih anak 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran di balik proses mengantri. 2. Karena tidak semua anak kelak menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak jadi penari, atlet, musisi, pelukis, dsb. 3. Karena semua murid sekolah pasti lebih membutuhkan pelajaran Etika Moral dan ilmu berbagi dengan orang lain saat dewasa kelak. ”Apakah pelajaran penting di balik budaya MENGANTRI?” ”Oh banyak sekali.." 1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal. 2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya jika ia mendapat antrian di tengah atau di belakang. 3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal. 4. Anak belajar disiplin, setara, tidak menyerobot hak orang lain. 5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri) 6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan berkomunikasi dengan orang lain di antrian. 7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. 8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang. 9. Anak belajar disiplin, teratur, dan menghargai orang lain 10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain. 11. Dan masih banyak pelajaran lainnya, silakan anda temukan sendiri.. FAKTANYA di Indonesia.. Banyak orang tua justru mengajari anaknya dlm masalah mengantri dan menunggu giliran, Sebagai berikut : 1. Ada orangtua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!” 2. Ada orangtua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian. 3. Ada orangtua yang memakai taktik atau alasan agar dia atau anaknya diberi jatah antrian terdepan, dengan alasan anaknya masih kecil, capek, rumahnya jauh, orang tak mampu, dsb. 4. Ada orang tua yang marah-marah karena dia atau anaknya ditegur gara-gara menyerobot antrian orang lain, lalu ngajak berkelahi si penegur. 5. Dan berbagai kasus lain yang mungkin pernah anda alami. Yuk kita ajari anak-anak kita, kerabat dan saudara untuk belajar etika sosial, khususnya ANTRI. Budaya SUAP dan KORUPSI juga dimulai dari tidak mau belajar mengantri.....

Selasa, 06 Mei 2014

MANAJEMEN ETIKA

Soul's Bread: Erry R. Hardjapamekas Vincent, seorang Kepala Pemasaran sebuah perusahaan "hitech" dengan tingkat persaingan yang sangat ketat, sedang mencari seorang "Sales Representative" yang unggul dan handal. Dari sekian puluh lamaran dan setelah melakukan serangkaian wawancara, ia menemukan seorang yang dianggap paling tepat ditinjau dari berbagai sisi. Namanya Victor. Vincent hampir memutuskan untuk menerima Victor (sambil menunggu beberapa kontak telepon untuk mengecek beberapa referensi tentang Victor) ketika Victor tersenyum, meraih tas kantornya dan mengeluarkan amplop. Dari dalam amplop itu Victor mengeluarkan sebuah disk komputer, dan memegangnya dengan hati-hati bak batu mulia berharga sangat mahal. "Dapatkan anda menebak apa isi disk ini?" tanya Victor. Vincent menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu. Dengan tetap tersenyum, Victor mendengus untuk meyakinkan dirinya, kemudian menjelaskan betapa disk itu berisi informasi rahasia tentang persaingan perusahaan Vincent, yakni perusahaan tempat Victor bekerja sebelumnya. Di dalamnya tersimpan data tentang profil para pelanggan dan data biaya penawaran dalam tender kontrak peralatan militer dimana perusahaan Vincent pun ikut pula dalam tender tersebut. Setelah wawancara selesai, Victor berjanji apabila ia diterima menjadi "Sales Representative", maka disk itu dan beberapa disk serupa lainnya akan ia berikan pada Vincent. Kepala Pemasaran itu kini berada di tengah dua kutub. Satu kutub berisi pertanyaan, bagaimana bisa ada orang yang berperilaku dan mampu berbuat seperti itu. Kutub lainnya berisi kebimbangan, bila ia menerima orang itu berarti ia mendapatkan sesuatu yang setara dengan tambang emas saja. Ini perang batin antara soal etika dan laba. Silakan anda membantu Vincent mengambil keputusan. Pojok Renungan Editor: Dalam berbagai skala, mulai dari yang ringan sampai ekstrim, kita menjumpai hal-hal semacam ini. Mungkin kita menemukan selembar uang di jalan, atau segebok uang salah transfer dalam rekening bank kita. Semuanya bisa jadi menimbulkan perang batin yang hanya kita sendiri yang mampu memecahkannya. Contoh soal di atas mungkin dengan mudah dipecahkan, karena itu hanyalah sebuah contoh soal. Jauh lebih penting adalah bagaimana sikap kita jika benar-benar menghadapinya. (Disadur dari: Erry Riyana Hardjapamekas, Esensi Kepemimpinan)

Senin, 30 Desember 2013

JADI SASARAN KEBENCIAN

Tanya: Enam bulan ini saya bekerja sebagai sekretaris direktur pabrik di sebuah perusahaan nasional. Atasan saya adalah seorang pria berumur 51 tahun. Beliau baru bekerja di sini sekitar 2-3 tahun. Sebelumnya beliau bekerja di beberapa perusahaan multinasional asing selama puluhan tahun. Baru beberapa hari bekerja saya sudah merasakan bahwa banyak karyawan lama yang tidak suka pada atasan saya ini. Beliau dikenal suka berbicara ceplas-ceplos, tidak menghiraukan perasaan orang lain, kritis sekali, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, dan selalu berbicara dengan nada tinggi, seolah-olah marah. Mungkin beliau memang sedang marah. Tapi sebenarnya beliau ini pandai sekali. Ide-idenya banyak yang bagus. Sayang tidak semua idenya bisa dijalankan. Saya tidak tahu kenapa. Tetapi atasan saya sering mengeluh bahwa orang-orang di perusahaan ini tidak mudah berubah. Mungkin karena mereka sudah bekerja puluhan tahun di pabrik ini. Masalahnya, tiba-tiba saya kok jadi sasaran kebencian dari para manajer dan karyawan lain. Saya berusaha menjelaskan apa sebenarnya yang diinginkan oleh beliau, tetapi saya malah dianggap membela dan membenarkan perilaku beliau yang tidak disukai karyawan. Saya jadi serba salah dan tidak bisa bekerja dengan baik. Tidak sedikit manajer yang bersikap sinis terhadap saya, tetapi mereka tidak berani menunjukkan ketidaksetujuan mereka pada atasan saya. Saya jadi tidak betah bekerja dengan suasana seperti ini. Pokoknya serba salah. Mohon masukannya ya. Makasih. (Tta) Jawab: Mbak Tta yang baik, terima kasih atas emailnya yang panjang lebar. Situasi yang anda hadapi ini memang kurang mengenakkan, tapi percayalah, itu sangat menantang. Menurut kami, anda telah berusaha menghadapi situasi ini dengan cara yang baik, yaitu menjelaskan pada karyawan apa yang dimaui sang direktur. Tapi sayang, mereka malah menganggap anda membela dan membenarkan perilaku sang direktur yang tak mereka sukai. Padahal, sebagai orang yang sehari-hari bekerja dekat dengan sang direktur, wajar kalau anda cukup mengenal beliau. Penjelasan anda semestinya merupakan umpan balik bagi para manajer agar mereka lebih bisa menghadapi sang direktur. Teruskan upaya anda ini. Namun, jangan lupa, perhatikan cara anda menyampaikannya. Jangan sampai keinginan anda yang baik ini justru menafikan apa yang dimaui oleh para manajer tersebut. Langkah selanjutnya adalah bagaimana anda bisa menyampaikan apa yang sebenarnya diinginkan para karyawan pada sang direktur. Mungkin anda khawatir kalau-kalau dianggap menggosip atau menjelek-jelekkan orang lain. Oleh karena itu coba gali lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik sikap-sikap yang tidak mengenakkan ini. Apakah menurut anda terjadi perbedaan "budaya" antara sang direktur dengan karyawan. Bukankah anda mengatakan bahwa sang direktur yang berumur 51 tahun ini sudah berpuluh-puluh tahun bekerja di perusahaan multinasional asing. Budaya kerja seperti; keterbukaan, mandiri, berani mengambil keputusan sendiri, berani menghadapi konflik dan bersaing secara ketat, yang biasanya berkembang di perusahaan-perusahaan multinasional sedikit banyak tertanam dalam kepribadian sang direktur. Agaknya budaya kerja yang berkembang di perusahaan anda tidak sepenuhnya bisa dihadapi dengan cara yang sama sebagaimana sang direktur hadapi dulu. Bukankah para manajer tampak "ya ya ya" di hadapan beliau, tetapi di belakang mereka menunjukkan ketidaksepakatannya. Memang tidak gampang mengubah kepribadian seseorang, namun itu bukan berarti tidak bisa dihadapi. Coba pelajari sebenarnya sikap yang bagaimana yang diinginkan oleh para bawahan beliau. Apakah mereka ingin bahwa setiap ide beliau itu sebelum benar-benar dijalankan sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu dengan para manajer? Bila ya, dapatkah anda mencari cara yang baik untuk menyampaikan hal ini pada sang direktur? Katakan bahwa ide beliau itu akan sangat didukung dan dijalankan, kalau para manajer merasa bahwa ide tersebut adalah ide mereka juga. Tawarkan pada manajer terkait, apakah mereka perlu waktu khusus dengan sang direktur untuk membicarakan hal-hal teknis demi pelaksanaan ide sang direktur. Doronglah mereka untuk berani mengemukakan pendapat meski berbeda. Yakinkan bahwa sanng direktur takkan keberatan dengan perbedaan pendapat, asal disampaikan dan didukung dengan dasar yang baik. Kemudian, sampaikan pada sang direktur bahwa mungkin para manajer perlu penjelasan lebih dalam dan memerlukan waktu untuk berbicara secara baik-baik? Cobalah menjadi seorang diplomat yang membawa misi perdamaian. Apakah sang direktur tidak disukai karena suka mengkritik tajam? Jika ya, dapatkah anda menemukan sesuatu dari pekerjaan para manajer yang patut dipuji dan dihargai? Meskipun itu tampaknya "remeh-temeh" saja. Misal, laporan yang rapi, lingkungan pabrik yang bersih, sikap sopan santun, dan lain-lain. Tidak salahnya kan kalau anda menyatakan penghargaan anda di depan sang direktur. Dengan demikian, sang direktur pun tergerak untuk mengakuinya juga. Mudah-mudahan dengan demikian beliau bisa mengimbangi kritiknya dengan penghargaan. Sadari bahwa tugas anda adalah seorang sekretaris yang bertujuan mempermudah kerja atasan anda. Tentu anda tidak diperkenankan melampaui kewenangan itu dan mencampuri urusan orang lain terlalu jauh. Dalam hal ini peran anda adalah sebagai pelumas agar hubungan antara sang direktur dan karyawan berjalan dengan baik. Tentu ada maksud tertentu, mengapa perusahaan memilih beliau sebagai pimpinan di perusahaan ini. Mungkin, pemilik perusahaan melihat perlunya perubahan besar terjadi di perusahaannya. Dan itu diperlukan seseorang yang benar-benar berbeda. Amati situasi yang terjadi dengan hati lapang. Anda tidak perlu merasa menjadi sasaran kebencian. Para karyawan itu mungkin hanya kesal, bukan benci. Dengan demikian anda tak perlu larut dalam pergolakan emosi masing-masing pihak. Sekali lagi, anda sama sekali bukan sasaran kekesalan mereka. Itu hanya perasaan anda sendiri. Sabar yaa.. Ambil saja keuntungan dari situasi ini. Keuntungan bahwa anda sedang belajar. Bukankah anda sendiri bilang kalau atasan anda ini orangnya pandai. Catat baik-baik ide-ide beliau yang menarik dan bagus. Catat pula pelajaran yang anda petik dari bagaimana menghadapi berbagai macam kepribadian dan budaya perusahaan. Bila anda berhasil menjalankannya, maka diam-diam semestinya perusahaan berterima kasih pada anda. Anda bayangkan saja, ketika sebuah misi perdamaian ditandatangani, mungkin penjuru dunia akan memuji para pemimpin negara yang mendandatangani, tetapi sebenarnya yang patut diacungi jempol adalah para diplomat yang bekerja keras di belakang layar. Dan mereka tidak perlu merasa mendapat pujian, karena yang terpenting adalah misi damai masing-masing negara tercapai. Bersediakah anda melakukan hal ini? Selamat berjuang dan bersabar.

Selasa, 22 Januari 2013

BOTOL MINYAK

Seorang ibu menyuruh seorang anaknya membeli sebotol penuh minyak. Ia memberikan sebuah botol kosong dan uang sepuluh rupee. Kemudian anak itu pergi membeli apa yang diperintahkan ibunya. Dalam perjalanan pulang, ia terjatuh. Minyak yang ada di dalam botol itu tumpah hingga separuh. Ketika mengetahui botolnya kosong separuh, ia menemui ibunya dengan menangis, "Ooo... saya kehilangan minyak setengah botol! Saya kehilangan minyak setengah botol!" Ia sangat bersedih hati dan tidak bahagia. Tampaknya ia memandang kejadian itu secara negatif dan bersikap pesimis. Kemudian, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee lagi. Kemudian anaknya pergi. Dalam perjalanan pulang, ia juga terjatuh. Dan separuh minyaknya tumpah. Ia memungut botol dan mendapati minyaknya tinggal separuh. Ia pulang dengan wajah berbahagia. Ia berkata pada ibunya, "Ooo... ibu saya tadi terjatuh. Botol ini pun terjatuh dan minyaknya tumpah. Bisa saja botol itu pecah dan minyaknya tumpah semua. Tapi, lihat, saya berhasil menyelamatkan separuh minyak." Anak itu tidak bersedih hati, malah ia tampak berbahagia. Anak ini tampak bersikap optimis atas kejadian yang menimpanya. Sekali lagi, ibu itu menyuruh anaknya yang lain untuk membeli sebotol minyak. Ia memberikan sebuah botol dan uang sepuluh rupee. Anaknya yang ketiga pergi membeli minyak. Sekali lagi, anak itu terjatuh dan minyaknya tumpah. Ia memungut botol yang berisi minyak separuh dan mendatangi ibunya dengan sangat bahagia. Ia berkata, "Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak." Tapi anaknya yang ketiga ini bukan hanya seorang anak yang optimis. Ia juga seorang anak yang realistis. Dia memahami bahwa separuh minyak telah tumpah, dan separuh minyak bisa diselamatkan. Maka dengan mantap ia berkata pada ibunya, "Ibu, aku akan pergi ke pasar untuk bekerja keras sepanjang hari agar bisa mendapatkan lima rupee untuk membeli minyak setengah botol yang tumpah. Sore nanti saya akan memenuhi botol itu." Pojok Renungan Editor: Kita bisa memandang hidup dengan kacamata buram, atau dengan kacamata yang terang. Namun, semua itu tidak bermanfaat jika kita tidak bersikap realistis dan mewujudkannya dalam bentuk KERJA. #William Hart

Rabu, 29 Agustus 2012

GADIS KECIL DAN KOTAK EMAS

Di sebuah keluarga miskin, seorang ayah tampak kesal pada anak perempuannya yang berusia tiga tahun. Anak perempuannya baru saja menghabiskan uang untuk membeli kertas kado emas untuk membungkus sekotak kado. Keesokan harinya, anak perempuan itu memberikan kado itu sebagai hadiah ulang tahun pada sang ayah. "Ini untuk ayah," kata anak gadis itu. Sang ayah tak jadi marah. Namun ketika ia membuka kotak dan mendapatkan isinya kosong, meledaklah kemarahannya. "Tak tahukah kau, kalau kau menghadiahi kado pada seseorang, kau harus memberi sebuah barang dalam kotak ini!" Anak perempuan kecil itu menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Ia berkata terisak-isak, "Oh ayah, sesungguhnya aku telah meletakkan sesuatu ke dalam kotak itu." "Apa yang kau letakkan ke dalam kotak ini? Bukankah kau lihat kotak ini kosong?" bentak ayahnya. "Oh ayah, sungguh aku telah meletakkan hampir ribuan ciuman untuk ayah ke dalam kotak itu," bisik anak perempuan itu. Sang ayah terperangah mendengar jawaban anak perempuan kecilnya. Ia lalu memeluk erat-erat anak perempuannya dan meminta maaf. Konon, orang-orang menceritakan bahwa, pria itu selalu meletakkan kotak kado itu di pinggir tempat tidurnya sampai akhir hayat. Kapan pun ia mengalami kekecewaan, marah atau beban yang berat, ia membayangkan ada ribuan ciuman dalam kotak itu yang mengingatkan cinta anak perempuannya. Dan sesungguhnya kita telah menerima sebuah kotak emas penuh berisi cinta tanpa pamrih dari orang tua, istri/suami, anak, pasangan, teman dan sahabat kita. Tak ada yang lebih indah dan berharga dalam hidup ini selain cinta. (Disadur dari: Ana Lucia, A Little Girl and The Golden Box)

Senin, 14 Mei 2012

ITU ADALAH AKU

Smiley: Seorang pria mabuk keluar dari bar. Saking mabuknya ia tak lagi mampu mengendarai kendaraannya pulang. Pemilik bar lalu memanggil polisi untuk mengantarkan pria itu pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pria mabuk itu memberikan petunjuk dimana rumahnya berada. Mereka berputar-putar sekeliling kota, namun pria itu masih belum mampu menunjukkan arah ke rumahnya. Polisi itu mulai kesal. Namun, tiba-tiba pria mabuk itu tampak sadar dengan keadaan. Ketika mereka melewati sebuah pertokoan besar, pria itu tersenyum dan menunjuk, "Ah, aku ingat! Itu adalah toko pakaian dimana istriku suka berbelanja baju." Ketika mereka melewati sebuah pusat kebugaran, ia berseru, "Nah, itu adalah tempat aku dan istriku biasa berolahraga." Kemudian mereka tiba di gerbang sebuah kompleks perumahan elit. Pria itu menunjuk sambil berkata, "Nah, inilah perumahan tempat aku dan keluargaku tinggal. Kita hampir sampai." Tak lama kemudian mereka melewati sebuah rumah baru yang mewah dan besar, pria itu berteriak, "Stop, itu adalah rumahku." Ketika mereka mendekat ke rumah itu, muncul sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah itu. Dari dalam mobil itu keluar seorang wanita cantik nan sexy. Pria itu berbisik, "Lihat, itu adalah istriku. Betapa cantiknya ia bukan?" Lalu dari dalam rumah itu keluar seorang pria tampan berpakaian gagah yang menyambut wanita itu dengan mesra. Melihat hal itu, pria mabuk itu langsung berteriak dan menunjuk, "Dan... itulah aku!" Smiley...! Guyonan yang biasa saja bukan? Namun, bukankah itu banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang mengkhayal mengenai kemewahan dirinya, padahal ia tak lebih dari sekedar mabuk dan melalaikan realitanya sendiri.

Minggu, 08 Januari 2012

WAKTUNYA SUDAH HABIS

Martin Rutte
Smiley:

Lelaki itu direktur sebuah perusahaan periklanan yang besar, sedangkan saya hanyalah seorang konsultan manajemen yang masih sangat muda. Saya direkomendasikan kepadanya oleh salah seorang karyawannya yang pernah melihat hasil karya saya dan si karyawan itu berpendapat bahwa saya memiliki sesuatu yang patut ditawarkan. Saya sungguh gelisah. Pada tahapan karier saya waktu itu, tidaklah terlalu sering ada peluang bagi saya untuk berbicara dengan direktur sebuah perusahaan.

Janji pertemuannya jam 10.00 pagi, selama satu jam. Saya tiba agak awal. Tepat ajm 10.00, saya didorong masuk ke sebuah ruangan ebsar yang udaranya segar. Perabotannya berwarna kuning terang. Dia mengenakan kemeja yang lengannya digulung ke atas. Wajahnya tampak garang.

"Waktumu hanya 20 menit," katanya dengan ketus.

Saya duduk dan tak mengucapkan sepatah kata pun.

"Saya bilang, kamu hanya punya waktu 20 menit."

Lagi-lagi saya tak bisa bicara apa-apa.

"Waktumu terus berjalan. Kenapa kamu tidak berbicara apa-apa?"

"Itu kan waktu saya," jawab saya. "Saya bisa melakukan apa saja semau saya selama 20 menit itu."

Dia tertawa tergelak-gelak.

Kemudian, kami bicara selama satu setengah jam. Saya mendapatkan pekerjaan itu.

Selasa, 14 Juni 2011

PERANGAI

Soul's Bread:
Diadaptasi dari Zen Flesh, Zen Bone. Paul Reps

Seorang murid mendatangi sang Guru dan mengeluh, "Guru, saya mempunyai perangai yang tidak terkendali. Bagaimana saya bisa mengubahnya?"

" Kamu mempunyai sesuatu yang sangat aneh," jawab sang guru. "Kalau begitu biarkan saya melihat apa yang kamu miliki."

"Sekarang ini saya tidak bisa menunjukkannyua pada anda," jawab sang murid.

"Kalau begitu kapan kau bisa menunjukkannya pada saya?" tanya sang guru lagi.

"Wah, perangaiku ini muncul secara tidak diharap-harapkan," jawab sang murid.

"Kalau begitu," sang guru menyimpulkan, "Itu past bukanlah milikmu. Jika memang milikmu, kau pasti bisa menunjukkannya pada saya setiap saat. Ketika kamu dilahirkan, kamu tidak memilikinya, dan orangtua kamu tidak memberikannya kepadamu. Renungkanlah hal itu."

Pojok Renungan : Seringkali kita ingin mengubah perangai buruk kita karena menganggapnya itu milik kita. Namun, ternyata tidak begitu mudah, karena ternyata perangai itu bukan milik kita. Maka, mengapa kita harus menganggap perangai itu adalah kita.

MENENANGKAN PIKIRAN

Soul's Bread:
Diadaptasi dari Zen Flesh, Zen Bone. Paul Reps

Seorang guru sedang duduk tenang dalam tepekurnya. Ketika itu salah seorang muridnya datang dan menunjukkan lengannya yang terluka sambil menangis, "Pikiran saya tidak tenang. Guru, damaikanlah pikiran saya."

Sang guru melihat dengan seksama lalu berkata, "Bawakan kemari pikiranmu itu pada saya. Saya akan menenangkannya untukmu."

Sang murid menjawab, "Ketika saya bertemu dengan pikiran saya, saya tidak bisa memegangnya. Bagaimana saya bisa membawakannya untuk Guru."

Sang guru berkata, "Dengan demikian, pikiran anda telah tenang."

Pojok Renungan : Benarkah pikiran ini milik kita? Betapa dalam tepekur kita amati pikiran melompat-lompat bak kuda liar. Bahkan kita yang mengaku memiliki pikiran itu tak mampu menangkapnya.

Rabu, 25 Mei 2011

PEMIMPIN PELAYAN

Kepemimpinan pelayan adalah sebuah konsep kepemimpinan etis yang diperkenalkan oleh Robert K. Greenleaf mula-mula pada tahun 1970. Robert K.
Greenleaf sendiri menghabiskan sebagian besar kariernya di bidang penelitian manajemen, pengembangan dan pendidikan di AT&T selama 40 tahun. Kemudian, selama 25 tahun ia bekerja sebagai konsultan penting bagi sejumlah organisasi besar, seperti Universitas Ohio, MIT, Ford Foundation. Pada tahun 1964 ia mendirikan Center for Applied Ethics yang berganti nama menjadi Robert K. Greenleaf pada tahun 1985 di Indianapolis, Indiana.

Konsep kepemimpinan pelayan ini secara evolusioner mengubah pendekatan kepemimpinan yang bersifat organik dan pribadi. Pada akhir abad dua puluh ini, kita melihat mode otokratis dan hierarkis kepemimpinan yang tradisional perlahan-lahan bergerak menuju model yang lebih baru, yang berusaha secara simultan meningkatkan pertumbuhan pekerja dan memperbaiki mutu serta kepedulian banyak organisasi melalui perpaduan kerjasama tim dan masyarakat, keterlibatan pribadi dalam pembuatan keputusan, serta perilaku etis dan kepedulian. Cara pendekatan kepada kepemimpinan dan pelayanan yang baru ini
disebut "kepemimpinan pelayan".

Kata pelayan dan pemimpin biasanya dianggap sebagai dua kata yang saling berlawanan. Bila dua kata yang berlawanan disatukan dengan cara kreatif dan bermakna, maka timbul satu paradoks. Menurut Greenleaf, pemimpin besar mula-mula harus melayani orang lain. Ini adalah kenyataan sederhana yang merupakan inti kebesarannya. Kepemimpinan sejati timbul dari mereka yang motivasi utamanya adalah keinginan menolong orang lain. Dengan demikian, kepemimpinan, menurut Greenleaf, haruslah menempatkan satu model pelayanan bagi orang lain, sebuah cara pendekatan holistik kepada pekerjaan, rasa
kemasyarakatan, dan kekuasaan pembuatan keputusan yang dibagi bersama.

Siapakah pemimpin-pelayan itu? Dalam bukunya "The Servant as Leader", Greenleaf menulis: "Ini dimulai dengan perasaan alami bahwa orang ingin melayani, melayani lebih dulu. Kemudian pilihan sadar membawa orang untuk berkeinginan memimpin. Perbedaan ini memanifestasikan diri dalam kepedulian yang diambil oleh pelayan - yang mula-mula memastikan bahwa kebutuhan prioritas tertinggi orang lain adalah dilayani. Ujian yang terbaik adalah: Apakah mereka yang dilayani tumbuh sebagai pribadi, atau apakah mereka, sementara dilayani, menjadi lebih sehat, lebih bijaksana, lebih bebas, lebih mandiri, dan lebih memungkinkan diri mereka menjadi pelayan?

Sebagaimana dinyatakan di atas, bahwa konsep kepemimpinan pelayan adalah konsep yang mengubah pendekatan kepemimpinan secara evolusioner dan pribadi, maka konsep ini bukanlah perbaikan cepat atas persoalan-persoalan kepemimpinan. Kepemimpinan pelayan adalah cara pendekatan berjangka panjang yang memberikan perubahan pada kehidupan dan kerja.

Ada sepuluh ciri khas penting mengenai kepemimpinan pelayan, sebagaimana hasil studi Larry Spears atas tulisan-tulisan Greenleaf, yaitu:

1--Mendengarkan.

Pemimpin pelayan mengembangkan kemampuan dan komitmen untuk mengenali serta memahami secara jelas kata-kata orang lain. Mereka berusaha mendengarkan secara tanggap apa yang dikatakan dan tidak dikatakan. Mendengarkan juga melampaui upaya memahami suara batinnya sendiri, serta berusaha memahami apa yang dikomunikasikan oleh tubuh, jiwa, dan pikiran. Mendengarkan, dipadukan dengan perenungan yang teratur, mutlak penting bagi pertumbuhan pemimpin pelayan.

2--Empati.

Pemimpin pelayan berusaha keras memahami dan memberikan empati kepada orang lain. Orang perlu diterima dan diakui untuk jiwa mereka yang unik. Mereka akan menunjukkan itikad dan kerja baik jika diakui sebagai manusia. Pemimpin pelayan paling berhasil adalah mereka yang menjadi pendengar ahli penuh empati.

3--Menyembuhkan.

Salah satu kekuatan besar kepemimpinan pelayan adalah kemungkinan untuk menyembuhkan diri sendiri dan orang lain. Banyak orang yang patah semangat dan menderita akibat rasa sakit emosional. Maka belajar untuk menyembuhkan merupakan daya yang kuat untuk perubahan dan integrasi. Pemimpin pelayan mengakui bahwa mereka mempunyai kesempatan untuk membantu pemberian kesehatan bagi orang-orang yang berhubungan dengan mereka.

4--Kesadaran.

Kesadaran, terutama kesadaran diri, memperkuat pemimpin pelayan. Kesadaran membantu memahami persoalan yang melibatkan etika dan nilai-nilai. Ini memungkinkan orang bisa melihat persoalan-persoalan dari posisi yang lebih terintegrasi. Menurut Greenleaf, "Pemimpin pelayan senantiasa memiliki ketenangan batinnya sendiri."

5--Persuasif.

Ciri khas pemimpin pelayan lainnya adalah mengandalkan kemampuan membujuk, bukannya wewenang karena kedudukan, dalam membuat keputusan di dalam organisasi. Pemimpin pelayan berusaha meyakinkan orang lain, bukannya memaksakan kepatuhan. Ini merupakan ciri pembeda antara model wewenang tradisional dan model kepemimpinan pelayan. Kepemimpinan pelayan efektif dalam membangun konsensus kelompok.

6--Konseptualisasi.

Pemimpin pelayan berusaha menjaga kemampuan mereka untuk melihat suatu masalah dari perspektif yang melampaui realita dari hari ke hari. Banyak orang yang disibukkan oleh kebutuhan untuk meraih tujuan operasional jangka pendek. Pemimpin pelayan harus meregangkan pemikirannya hingga mencakup pemikiran konseptual yang mempunyai landasan yang lebih luas. Ini berarti pemimpin pelayan harus mengusahakan keseimbangan yang rumit antara konseptualisasi dan fokus operasional sehari-hari.

7--Kemampuan meramalkan.

Kemampuan untuk memperhitungkan sebelumnya, atau meramalkan hasil satu situasi sulit didefinsikan, tetapi mudah dikenali. Orang mengetahuinya bila mereka melihatnya. Kemampuan meramalkan adalah ciri khas yang memungkinkan pemimpin pelayan bisa memahami pelajaran dari masa lalu, realita masa sekarang, dan kemungkinan konsekuensi dari keputusan untuk masa datang. Ini menanamkan akarnya sampai jauh ke wilayah intuitif. Ini juga berarti ciri khas ini merupakan bawaan sejak lahirnya pemimpin tersebut.

8--Kemampuan melayani.

Melayani, atau stewardship, menurut Peter Block, adalah "memegang sesuatu dengan kepercayaan kepada orang lain." Kepemimpinan pelayan haruslah mempunyai kemampuan untuk melayani, dan terutama komitmen untuk melayani kebutuhan orang lain. Ini juga menekankan penggunaan keterbukaan dan bujukan, bukannya pengendalian. Menurut Greenleaf, semua apa yang ada dalam sebuah organisasi memainkan peranan penting dalam menjalankan organisasi tersebut dengan kepercayaan kepada kebaikan masyarakat yang lebih besar.

9--Komitmen pada pertumbuhan manusia.

Pemimpin pelayan berkeyakinan bahwa manusia mempunyai nilai intrinsik melampaui sumbangan nyata mereka sebagai pekerja. Dalam hal ini, pemimpin pelayan sangat berkomitmen terhadap pertumbuhan pribadi, profesional, dan spiritual setiap individu dalam organisasi itu.

10--Membangun masyarakat.

Pemimpin pelayan berusaha mengenali satu sarana untuk membangun masyarakat di kalangan mereka yang bekerja dalam organisasi tersebut. Kepemimpinan pelayan menyatakan bahwa masyarakat yang sesungguhnya bisa diciptakan di kalangan mereka yang bekerja dalam bisnis dan lembaga lainnya. Yang diperlukan untuk membangun kembali masyarakat sebagai bentuk kehidupan yang bisa dihayati bagi jumlah besar orang adlaah sejumlah cukup pemimpin pelayan yang menunjukkan jalan, bukan dengan gerakan masal, melainkan dengan cara setiap pemimpin pelayan memperlihatkan kemampuan yang tidak terbatas untuk kelompok spesifik yang berhubungan dengan masyarakat.

(Diringkas dari Larry Spears)

Minggu, 13 Maret 2011

TIPS MENDORONG PERILAKU ETIK DI KANTOR

Kita semua menginginkan bekerja dalam suasana organisasi yang positif, dimana semua orang mempunyai integritas tinggi untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Meski setiap saat organisasi berubah, tehnologi baru ditemukan, atau produk-produk dikembangkan, namun ada sesuatu yang tidak mudah berubah begitu saja. Yaitu, perilaku etik, nilai-nilai etis dalam pergaulan kantor sehari-hari. Ini adalah sesuatu yang didambakan oleh setiap orang dalam organisasi. Kita menjunjung tinggi perilaku etis, namun seringkali tidak mudah untuk mendorong terciptanya budaya dan perilaku etis di kantor. Berikut, tips untuk mendorong terciptanya perilaku etis di kantor.

1--Jadilah teladan

Bersikaplah konsisten. Jangan mengistimewakan diri sendiri dibanding orang lain. Jadilah teladan. Ini adalah perintah dan contoh yang bisa langsung dilihat oleh karyawan anda. Percuma saja semua aturan tertulis mengenai kode etik karyawan dan sebagainya, jika anda sebagai pemimpin tidak mampu menjadi model bagi aturan yang anda buat sendiri.

2--Susun pernyataan kode etik perusahaan secara tertulis.

Susunlah perilaku apa yang perusahaan harapkan dari seluruh organisasi.
Misal, integeritas, moral, disiplin, dan lain sebagainya. Tulislah dalam bahasa yang sederhana dan tidak muluk-muluk. Sesuatu yang terlampau tinggi mungkin hanya indah dilihat, tetapi sulit diterapkan. Buatlah pernyataan yang ringkas yang formal dan mudah dimengerti.

3--Jadikan perilaku etik sebagai bagian dari budaya perusahaan.

Pernyataan kode etik bukan untuk dipajang dalam bingkai yang indah dan mahal, tetapi harus menjadi bagian dari budaya perusahaan. Ini berarti anda harus terus-menerus menyebarkan nilai-nilai tersebut ke seluruh organisasi melalui berbagai program pelatihan, kampanye, poster, dan lain sebagainya. Bila perlu ciptakan bahasa-bahasa kode etik yang mudah dipahami dan menjadi milik khas organisasi anda.

4--Kenakan sanksi pada mereka yang melanggar kode etik.

Bila ada karyawan yang berbohong, melakukan tindakan melanggar hukum, atau hal-hal lain yang bertentangan dengan pernyataan kode etik perusahaan, maka jangan ragu untuk menjatuhkan sanksi. Sanksi ini berlaku bagi siapa pun. Tidak ada seseorang yang harus diistimewakan di depan pengadilan atas pelanggaran atas kode etik ini. Karena melanggar kode etik adalah melanggar budaya perusahaan itu sendiri. Sanksi haruslah dijatuhkan segera setelah terjadinya pelanggaran.

5--Berikan penghargaan bagi mereka yang mampu menjunjung tinggi perilaku etik.

Penghargaan itu adalah pengakuan bahwa perilaku etisnya bukan hanya sangat dibutuhkan dalam menjaga suasana organisasi anda, namun juga sebagai sesuatu yang indah untuk dilihat. Anda bisa mengutip perilaku sehari-hari dari sang teladan dan menyampaikannya pada seluruh organisasi. Ini adalah bentuk penghargaan yang tidak mahal, namun sangat menyentuh si pelaku. Namun demikian janganlah lantas tampak ada kesan anda menganak-emaskan orang-orang tertentu. Yang penting adalah bahwa perilaku etis yang ditunjukkan mereka juga diakui oleh seluruh karyawan dalam organisasi.

6--Beri petunjuk bagaimana menghadapi perilaku tidak etis.

Bersikap dalam menghadapi suatu perilaku tak etis merupakan bagian dari pelajaran berperilaku etik juga. Jelaskan pada karyawan, apa yang harus mereka lakukan jika ada pemasok yang coba-coba menyogok mereka? Atau jika ada rekan kerja yang mengajak melakukan penipuan. Ini menolong karyawan untuk menilai apakah sebuah tindakan itu dinilai etis atau tidak.

7--Jadikan perilaku etik sebagai bagian dari syarat karyawan baru.

Rekrutlah hanya calon karyawan yang menunjukkan komitmen tinggi untuk menjaga perilaku etis. Jadikan juga kode etik ini sebagai bagian dari prosedur penilaian kenaikan pangkat. Jangan promosikan karyawan yang terbukti telah melanggar kode etik perusahaan.

Minggu, 13 Februari 2011

ANGGUR

Seseorang telah menanam anggur yang dikenal sebagai suatu jenis baru yang menghasilkan buah anggur yang siap dimakan hanya setelah berumur tiga puluh tahun. Ketika dia menanamnya, Sultan melintas, berhenti, dan berkata, "Engkau seorang yang luar biasa optimis jika engkau berharap hidup hingga anggur itu berbuah."

"Mungkin aku tidak akan hidup selama itu," jawab orang itu. "Tetapi setidaknya para penggantiku akan hidup dan mengambil keuntungan dari pekerjaanku, sebagaimana kami semua mengambil keuntungan dari kerja para pendahulu kita."

"Kalau begitu," jawab Sultan. "Jika pohon anggur itu berbuah, bawakan beberapa butir buah untukku. Itu jika kita lolos dari pedang kematian yang menggantung di atas kita sepanjang waktu."

Sultan pun pergi.

Tiga puluh tahun kemudian pohon anggur itu mulai menghasilkan buah anggur yang lezat. Orang itu mengisi sebuah keranjang besar dengan buah anggur pilihan dan pergi ke istana. Sultan menerimanya dan memberinya hadiah emas yang banyak.

Kabar pun tersiar, "Seorang petani yang tak dikenal telah diberi sejumlah emas yang banyak sebagai pengganti sebuah keranjang anggur."

Seorang perempuan dungu mendengar hal ini. Segera ia mengisi sebuah keranjang dengan buah anggur miliknya dan membawanya sendiri ke penjaga istana. Ia berkata, "Aku meminta ganjaran yang sama dengan yang telah diterima oleh laki-laki tadi pagi. Ini buah anggurku. Jika Sultan memberi uang untuk buah-buahan, maka ini buah-buahan itu."

Sang Sultan mengetahui hal itu dan menjawab, "Ia hanya bisa meniru dan sombong. Ia tidak mau mengetahui apa latar belakang aku memberi emas pada lelaki itu. Karenanya, usir dia!"

Perempuan itu tidak mau bersusahpayah mengetahui bagaimana sang petani anggur bisa menumbuhkan anggurnya. Perempuan itu hanya mau meniru mudahnya saja.

(Idries Shah, The Way of Sufi)

Minggu, 06 Februari 2011

TIPS MENJADI AYAH YANG BAIK BAGI EKSEKUTIF SIBUK

Adalah hal yang biasa bagi anda, eksekutif yang sibuk, menghadapi dilema untuk memilih mana yang harus didahulukan: karier atau keluarga. Kebanyakan eksekutif yang sukses menganggap bahwa keberhasilan karier menuntut pengorbanan keluarga (ini menjadikan dilema ini menjadi bukan dilema lagi). Ini tampak dari lamanya jam kerja mereka, seringnya mereka melakukan perjalanan dinas, bahkan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kerja di saat-saat semestinya mereka berada bersama keluarga. Sudah menjadi pendapat umum bahwa urusan keluarga, seperti mengurus anak, menjalin hubungan dengan tetangga, dan lain sebagainya, diletakkan di pundak istri. Yang lebih
menarik lagi, kini banyak wanita yang ikut-ikutan bekerja, yang berarti juga harus memenuhi tuntutan karier untuk mengorbankan kepentingan keluarga.

Namun, sesungguhnya yang terjadi tidaklah seseram dan seburuk itu. Tentu ada juga contoh-contoh di sekitar kita, orang-orang yang mampu meraih keberhasilan karier sekaligus menjadi ayah yang baik bagi keluarganya.
Berikut ini beberapa tips dari mereka yang berhasil menyeimbangkan kehidupan kerja dan keluarganya.

1--Pahamilah bahwa karier dan keluarga adalah sebuah kehidupan yang utuh.

Persoalan muncul bila kita menganggap karier adalah satu-satunya kehidupan yang kita miliki, sedangkan keluarga hanya sebagai persinggahan. Memang ini tidak menimbulkan dilema internal pada diri manajer itu, namun akan memberikan masalah bagi keluarga yang mencintainya. Maka yang paling utama adalah menyadari bahwa karier maupun keluarga adalah sebuah kehidupan yang utuh, yang keduanya harus bisa dilalui dengan sebaik-baiknya. Bila toh adakalanya, salah satu harus berkorban demi yang lain, maka pengorbanan itu tetap dalam bingkai mencapai sebuah keberhasilan hidup yang utuh.

2--Diskusikan secara terbuka dengan kluarga tuntutan karier anda.

Bila terjadi konflik antara tuntutan keluarga atau karier, maka upayakan sebuah diskusi terbuka dengan istri dan kekuarga anda. Berterusteranglah untuk mendapatkan pengertian dari keluarga bila anda harus mendahulukan kepentingan karier. Ini adalah langkah bijak yang juga dapat mendorong istri dan keluarga anda bisa mensikapi pekerjaan anda secara bijak pula. Sadari pula bahwa keluarga anda juga perlu tahu gambaran besar tentang apa-apa yang terjadi pada ayahnya yang tercinta.

3--Jadikan waktu dengan keluarga sebagai bagian time planning anda.

Seringkali kita, sebagai manajer yang sibuk, pandai membagi waktu kerja, namun gagal dalam membagi waktu untuk keluarga. Maka, masukkan kegiatan keluarga sebagai bagian dari perencanaan waktu anda. Lebih penting lagi, anda menyediakan waktu yang khusus bagi keluarga. Bukankah kita diberi akhir pekan, cuti tahunan, atau liburan panjang untuk menikmati hidup bersama keluarga. Atur waktu anda untuk melakukan sesuatu yang berharga untuk keluarga, sebagaimana anda mengatur waktu untuk kegiatan karier demi
produktivitas kerja.

4--Jaga terus hubungan/kontak dengan keluarga.

Meski anda sedang berada di tengah-tengah kesibukan kantor, perjalanan dinas, atau rapat besar, jangan lantas anda terputus hubungan dengan keluarga. Memang, yang terpenting adalah kualitas dari hubungan, namun kuantitas hubungan bukan hal yang bisa disepelekan begitu saja. Ini menunjukkan betapa anda masih memberikan perhatian pada keluarga anda. Toh, melalui teknologi komunikasi modern, seperti telephone, email, dll. hubungan anda bisa dengan mudah dilakukan.

5--Rayakan perayaan-perayaan keluarga.

Betapa hambarnya sebuah keluarga tanpa perayaan-perayaan keluarga. Berikan perhatian pada tanggal-tanggal penting bagi keluarga anda, seperti hari ulang tahun, tanggal pernikahan, perayaan agama, arisan keluarga, dan lain-lain. Sisihkan waktu anda untuk menghidupkan acara, seperti, membelikan bingkisan, turut mempersiapkan acara, dan lain-lain. Dalam perayaan ini terdapat kesempatan besar untuk menjalin hubungan harmonis, sekaligus memperbarui komitmen anda. Bukankah, banyak pemimpin yang membawa kebiasaan ini di lingkungan kantor, dan menjadi seorang pemimpin yang dicintai oleh bawahannya?

6--Penuhi kebutuhan keluarga sebaik-baiknya.

Asahlah kepekaan terhadap kebutuhan keluarga. Bertindaklah proaktif untuk mengetahui apa-apa yang diperlukan oleh keluarga anda. Bila anda tak mampu memenuhinya sendiri, lakukan pendelegasian. Bukankah ini juga sesuatu yang anda lakukan di lingkungan kantor anda. Namun, bagi keluarga anda, kepekaan dan kesediaan anda untuk memenuhi kebutuhan itu jauh lebih bernilai di mata mereka.

7--Perkuat nilai-nilai diri anda sendiri.

Renungkan kembali seluruh tujuan hidup anda. Temukan apa-apa yang menjadi tiang utama dalam kehidupan anda. Apakah pekerjaan memang harus menuntut pengorbanan seluruh hidup anda? Bila ya, apakah anda dan keluarga memang benar-benar siap dan menyadari peran itu? Menjadi pahlawan bagi masyarakat memang tindakan mulia, namun itu juga harus berarti menjadi pahlawan bagi keluarga anda. Sebelum anda benar-benar siap meniti karier yang semakin tinggi semakin kencang angin menerpa, perkuat nilai-nilai diri anda, sebagaimana pohon besar yang menancapkan akarnya kuat-kuat ke dalam bumi. Dan, bumi yang terbaik adalah keluarga anda sendiri. Karena, keluargalah
yang menopang anda di kala badai kehidupan menerpa.

SANG BADUT

Seorang pria mengunjungi seorang psikolog.
Ia berkata pada psikolog,"Dokter, saya merasa sangat tertekan. Tak peduli apa pun yang saya lakukan, saya tetap merasa tertekan. Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan."

Psikolog itu tersenyum padanya, dan berkata, "Mari ikut aku ke jendela itu."

Pria itu mengikuti sang psikolog. Kemudian, psikolog itu menunjuk ke arah luar jendela dan berkata, "Apakah kau bisa melihat tenda besar jauh di luar sana?
Itu adalah tenda rombongan sirkus yang sedang mengadakan pertunjukkan di kota ini. Pertunjukkan mereka benar-benar bagus. Mereka mempunyai seorang badut yang sangat-sangat lucu. Ia tentu bisa membuat kau tertawa terbahak-bahak sampai habis tawamu. Cobalah pergi ke sana dan tontonlah pertunjukkan sang badut itu. Saya jamin kau takkan punya alasan untuk merasa tertekan lagi!"

Pria itu membalikkan badannya menghadap si psikolog. Dengan pandangan mata yang sedih ia berkata, "Dokter, akulah sang badut itu!"

Smiley...! Tak jarang mereka yang pandai memberikan nasehat justru memerlukan nasehat yang lebih baik.

(Unknown, The Clown)

Kamis, 13 Januari 2011

UANG SEBAGAI MOTIVATOR ATAU MANIPULATOR

Paul W. Cummings

Jika anda bertanya pada sekelompok karyawan, apakah mereka pantas diberi kenaikan upah, hampir semua akan mengacungkan tangan. Ini tentu saja suatu reaksi yang wajar. Hanya orang tolol akan menolak diberi kenaikan upah.
Jika anda kemudian bertanya, apakah mereka layak diberi kenaikan upah sesuai dengan kemampuan mereka, mungkin beberapa akan mengacungkan tangan, dan sebagian besar dari mereka tidak akan berbuat demikian. Jika anda lalu bertanya, apakah mereka mendapat upah yang tidak sesuai dengan tanggung jawab yang mereka emban, mungkin separo dari mereka akan mengacungkan tangan. Akhirnya, jika mereka anda tanya, apakah gaji mereka terlalu banyak sekarang ini, saya jamin hanya sedikit sekali yang akan mengacungkan tangan.

Apakah uang, dalam bentuk upah, gaji, bonus, dan insentif, merupakan motivator sungguh-sungguh, ataukah sebagai alat manipulator oleh manajemen. Nilai uang dalam dunia kerja kita sekarang ini ditentukan oleh pentingnya uang itu bagi masing-masing penerima. Dalam kondisi biaya hidup yang tinggi dan merajalelanya inflasi, uang akan jauh lebih berarti bagi kebanyakan orang. Ada beberapa segi menarik tentang uang yang harus disadari oleh pembaca sebelum berusaha menjawab pertanyaan ini:

1--Uang sebagai tolok ukur.

Upah atau gaji yang diterima seseorang seringkali digunakan sebagai alat ukur. Ini dikarenakan arti uang yang universal. Apa yang dapat dilakukan seseorang dengan uang, dan berapa banyak yang diterimanya merupakan alat ukur harga diri orang itu terhadap orang lain di dalam kelompok kerja yang sama, atau dalam organisasi lain.

2--Uang dan jabatan.

Nama jabatan dan gaji yang diterima dari pekerjaan itu kadang-kadang menyesatkan. Misalnya, seorang wakil direktur dengan gelar MBA yang bekerja dalam suatu lembaga keuangan, mungkin menerima sama atau kurang dari pengumpul sampah mingguan yang boleh jadi hanya seorang jebolan sekolah menengah. Apakah uang benar-benar merupakan motivator dalam hal ini?
Bagi wakil direktur itu jawabannya mungkin tidak, tetapi bagi si pengumpul sampah, jawabannya mungkin ya.

3--Uang sebagai daya tarik.

Jika uang bukan suatu motivator lalu mengapa demikian banyak organisasi kehilangan karyawan yang ulung karena terpikat oleh imbalan keuangan yang lebih tinggi? Mereka antara lain, sekretaris eksekutif, teknisi berketrampilan tinggi, manajer pabrik, dan bahkan direktur perusahaan itu sendiri.

4--Uang sebagai simbol.

Upah dan gaji dapat berfungsi sebagai simbol jika digabungkan dengan faktor-faktor kerja lain yang memuaskan seperti jam kerja, kondisi kerja, tanggung jawab, jumlah pengambilan keputusan yang diperlukan, dan bahaya serta resiko yang harus dihadapi dalam melaksanakan pekerjaan itu. Tentu saja, sudah jelas bahwa hubungan antara usaha yang harus diberikan dan keuntungan yang perlu diterima juga harus dipertimbangkan.

5--Uang sebagai pemersatu kelompok.

Jarang saya melihat uang sebagai motivator yang sungguh-sungguh. Pada suatu saat ketika saya bekerja sebagai seorang penyelia dalam bagian tungku terbuka suatu pabrik baja, saya melihat empat pembantu utama menggunakan solidaritas kelompok untuk mencapai bonus maksimum. Seorang pembantu utama bertanggung jawab atas pembuatan sejumlah ton baja cair pada suhu 2800 derajat Fahrenheit. Ini merupakan operasi terus-menerus, tujuh hari seminggu, 24 jam sehari. Empat orang itu bekerja dalam regu yang berbeda-beda, tetapi melayani satu tungku yang sama untuk menghasilkan baja.
Kebanyakan dari mereka tidak lulus sekolah menengah, tetapi dapat menghitung pendapatan bonus mereka hingga jumlah sennya. Walaupun masing-masing bekerja dalam regunya, mereka menggabungkan ketrampilan mereka menjadi suatu kelompok usaha yang memanfaatkan sistem bonus/insentif yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

6--Uang sebagai hadiah.

Jika uang merupakan hadiah utama dalam suatu perlombaan penjualan, para kontestan tentu saja akan bertanya pada diri sendiri berapa besar kemungkinannya untuk memenangkan perlombaan itu. Banyak variabel, seperti,jumlah dan kriteria pelanggan, prospek ekonomi nasional, harga produk, harga produk pesaing, laba bersih, jumlah kontestan, semua itu akan berpengaruh langsung terhadap kemungkinan seseorang untuk menang.

Keputusan apakah seseorang karyawan akan ikut perlombaan itu tergantung pada jumlah hadiah yang akan diterimanya, dan dibandingkan dengan gaji sebulannya. Jika seorang kontestan berpenghasilan Rp. 50.000,- sebulan, sedangkan hadiah utamanya Rp. 10.000,- itu bukan meruapakan perangsang.
Tetapi kontestan lain, yang menerima gaji Rp. 25.000,- sebulan akan menerima tantangan itu dengan senang hati dan terdorong untuk mencoba memenangkan hadiah itu.

Banyaknya usaha yang diperlukan untuk memenangkan perlombaan itu juga mempengaruhi keputusan untuk ikut berlomba atau tidak. Jika untuk itu diperlukan beberapa jam atau beberapa hari tambahan kerja, maka tak semua orang akan menerima tantangan itu.

Kesimpulannya. Uang mempunyai arti lain bagi masing-masing orang dalam organisasi kerja yang berbeda dan dalam waktu yang berbeda selama karier mereka. Demikian pula, uang mempunyai arti yang tidak sama bagi masing-masing manajemen dalam bidang usaha dan industri yang berbeda, dan dalam waktu berbeda sepanjang sejarah dan kehidupan organisasi itu. Oleh karena itu, jika tiga kekuatan besar ini dipertimbangkan, yaitu: orang, organisasi, dan uang, maka masalah uang sebagai motivator atau manipulator ditentukan oleh seberapa jauh uang itu berguna bagi orang dan organisasi
yang bersangkutan. Bagaimana individu dan organisasi melihat uang (sebagai alat manipulator atau motivator) merupakan masalah pilihan pribadi dalam masyarakat kapitalis yang bebas. Tetapi, pada masa sekarang, orang tidak boleh melupakan pengaruh kebijakan dan praktek-praktek ekonomi nasional dan internasional.

(Dikutip dari: Paul W. Cummings, Open Management)

AYAH HEBAT SEKALI

Beberapa waktu lalu sebuah gedung opera di Paris mengundang seorang penyanyi terkenal untuk mengadakan pertunjukan di sana. Tiket pertunjukan telah terjual habis. Semua orang ingin sekali menonton penampilan dari penyanyi terkenal itu.

Tetapi, pada malam pertunjukkan, sang penyanyi jatuh sakit dan tidak bisa tampil di sana.

Kemudian, pimpinan gedung opera itu naik ke atas panggung dan menyampaikan permohonan maafnya, "Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, terima kasih sekali atas dukungan anda semua pada pertunjukkan ini. Saya khawatir, karena sakit, artis yang sedang kita tunggu-tunggu ini tidak bisa tampil malam ini. Namun begitu, kami telah menunjuk seorang artis pengganti yang kami harap bisa memberikan hiburan yang tak kalah menariknya."

Langsung saja seluruh penonton berteriak menyatakan kekecewaan mereka.
Pengumuman selanjutnya dari pimpinan gedung opera mengenai nama artis pengganti itu tidak lagi terdengar dan tenggelam dalam gerutu penonton yang dongkol. Suasana yang semula penuh kemeriahan berubah menjadi putus asa dan kekecewaan.

Meski begitu, artis pengganti yang naik ke atas panggung berusaha menampilkan semua kemampuan terbaiknya. Dan, ketika ia selesai merampungkan pertunjukkannya tak seorang pun memberikan tepuk tangan atau applause.
Suasana penonton terasa dingin dan sunyi.

Hingga tiba-tiba dari salah satu sudut balkon, seorang anak kecil berdiri dan berteriak, "Ayah...! Pertunjukkan ayah hebat sekali...!" Ia bertepuk tangan sendiri sekeras-kerasnya.

Para penonton menoleh pada anak kecil yang berdiri di atas balok. Mereka merasa malu betapa tak mampu menghargai penampilan seseorang yang telah berusaha menampilkan pertunjukan yang sebaik-baiknya meski hanya sebagai penyanyi pengganti. Akhirnya, suasana gedung opera pecah dengan gemuruh tepuk tangan dari seluruh penonton.

Pojok Renungan Editor: Berikan yang terbaik, meski tak seorang pun menghargainya. Namun, hargai jerih payah yang telah ditunjukkan oleh orang lain. Bukankah, itu adalah pertanda keberadaban kita?

JANGAN KEBURU LELAH BANGSAKU

Lihatlah,
Moncong-moncong meriam di garis pertahanan kita
masih menganga garang.
Tiang-tiang bendera di puncak bukit kemenangan
tetap tegap menantang angkasa.

Dengarlah,
Gegap gempita pekik merdeka anak cucu
sayup-sayup datang dari seberang jaman.
Serak parau pejuang tua yang tak bernama
membisik-bisik dalam goresan sejarah
tanpa tinta tanpa pena.

Jangan keburu kau lipat sang saka,
meski tiada angin berkibar.
Jangan bungkam derap nyanyi perjuangan kita
meski hanya getar tanpa nada.

Jangan keburu lelah bangsaku!
meski terisak harus kau garaukan satu tanya,
sungguhkah kita telah merdeka?

Jumat, 07 Januari 2011

AYAH HEBAT SEKALI!

Soul's Bread:
Unknown

Beberapa waktu lalu sebuah gedung opera di Paris mengundang seorang penyanyi terkenal untuk mengadakan pertunjukan di sana. Tiket pertunjukan telah terjual habis. Semua orang ingin sekali menonton penampilan dari penyanyi terkenal itu.

Tetapi, pada malam pertunjukkan, sang penyanyi jatuh sakit dan tidak bisa tampil di sana.

Kemudian, pimpinan gedung opera itu naik ke atas panggung dan menyampaikan permohonan maafnya, "Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, terima kasih sekali atas dukungan anda semua pada pertunjukkan ini. Saya khawatir, karena sakit, artis yang sedang kita tunggu-tunggu ini tidak bisa tampil malam ini. Namun begitu, kami telah menunjuk seorang artis pengganti yang kami harap bisa memberikan hiburan yang tak kalah menariknya."

Langsung saja seluruh penonton berteriak menyatakan kekecewaan mereka.
Pengumuman selanjutnya dari pimpinan gedung opera mengenai nama artis pengganti itu tidak lagi terdengar dan tenggelam dalam gerutu penonton yang dongkol. Suasana yang semula penuh kemeriahan berubah menjadi putus asa dan kekecewaan.

Meski begitu, artis pengganti yang naik ke atas panggung berusaha menampilkan semua kemampuan terbaiknya. Dan, ketika ia selesai merampungkan pertunjukkannya tak seorang pun memberikan tepuk tangan atau applause.
Suasana penonton terasa dingin dan sunyi.

Hingga tiba-tiba dari salah satu sudut balkon, seorang anak kecil berdiri dan berteriak, "Ayah...! Pertunjukkan ayah hebat sekali...!" Ia bertepuk tangan sendiri sekeras-kerasnya.

Para penonton menoleh pada anak kecil yang berdiri di atas balok. Mereka merasa malu betapa tak mampu menghargai penampilan seseorang yang telah berusaha menampilkan pertunjukan yang sebaik-baiknya meski hanya sebagai penyanyi pengganti. Akhirnya, suasana gedung opera pecah dengan gemuruh tepuk tangan dari seluruh penonton.

Pojok Renungan Editor: Berikan yang terbaik, meski tak seorang pun menghargainya. Namun, hargai jerih payah yang telah ditunjukkan oleh orang lain. Bukankah, itu adalah pertanda keberadaban kita?

Kamis, 25 November 2010

YANG MEMBUAT KITA BESAR

Barry Spilchuk

Dengan perasaan bangga, saya dan Karen dijadikan "Tokoh Orangtua" untuk sehari di kelas taman kanak-kanak Michael, anak lelaki kami. Ia mengajak kami berkeliling kelas, berkenalan dengan semua temannya. Kami ikut dalam aktivitas mereka, memotong dan menggunting lalu merekatkan, begitu pula menjahit; lumayan lama juga kami ikut bermain-main di bak pasir. Bukan main ramainya!

"Ayo, sekarang duduk membentuk lingkaran!" seru ibu guru. "Kita akan bercerita."

Karena tidak ingin kelihatan aneh di mata anak-anak, saya dan Karen ikut "membentuk lingkaran" bersama teman-teman baru kami. Setelah selesai menuturkan cerita tentang "besar", ibu guru bertanya kepada anak-anak yang asyik mendengarkan selama ia bercerita, "Apa yang membuat kalian merasa besar?"

"Serangga membuat aku merasa besar," teriak salah seorang anak.

"Semut," seru anak lainnya.

"Nyamuk," kata seorang anak lagi.

Ibu guru agak kewalahan menghadapi anak-anak yang berebutan menjawab. Untuk mengatasinya, ia memanggil anak-anak yang mengacungkan tangan. Sambil menunjuk seorang anak perempuan, ia bertanya, "Ya, sayang, apa yang membuatmu merasa besar?"

"Ibuku," begitulah jawab anak itu.

"Bagaimana ibumu membuatmu merasa besar?" tanya bu guru dengan heran.

"Gampang saja," kata anak perempuan itu. "Bila ia memelukku dan bilang aku sayang padamu, Jessica!"

(Barry Spilchuk, "A Cup of Chicken Soup for the Soul", Jack Canfield, Mark Victor Hansen and Barry Spilchuk)

Senin, 15 November 2010

MENGAPA BERUANG TUMBUH BESAR

Tsai Chih Chung

Seekor beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai deras. Waktu itu memang tidak sedang musim ikan. Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu juga ikan yang berhasil ia tangkap.

Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya... hup... ia dapat menangkap seekor ikan kecil. Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan. Si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, "Wahai beruang, tolong lepaskan aku."

"Mengapa," tanya sang beruang.

"Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu," rintih sang ikan.

"Lalu kenapa?" tanya beruang lagi.

"Begini saja, tolong kembalikan aku ke sungai. Setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar. Di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku untuk memenuhi seleramu," kata ikan.

"Wahai ikan, kau tahu mengapa aku bisa tumbuh begitu besar?" tanya beruang.

"Mengapa?" ikan balas bertanya sambil menggeleng-geleng kepalanya.

"Karena aku tak pernah menyerah walau sekecil apa pun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan!" jawab beruang sambil tersenyum mantap.

"Ops!" teriang sang ikan.

Smiley...! Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi sebuah kesempatan yang besar.