Senin, 23 November 2009

MENJADI ANGGOTA TIM POSITIF

Mike Pegg

Kalau semua tim memiliki kemampuan sama, maka tim yang memiliki sikap paling baiklah yang akan memperoleh hasil terbaik. Sikap itu terbentuk dari orang-orang yang tergabung dalam tim tersebut. Berikut ini ada sepuluh langkah yang dapat anda lakukan untuk menjadi seorang anggota tim yang baik.

1--Pastikan anda ingin bekerja dalam sebuah tim.

Tanyakan pada diri sendiri, apakah anda benar-benar ingin menjadi anggota sebuah tim. Ada orang yang lebih suka bekerja bagi dirinya sendiri, ada yang lebih suka menjadi pemimpin, dan ada yang memilih bekerja dalam suatu tim.
Sebelum anda dapat menjadi seorang anggota tim yang positif, yakinkan bahwa anda benar-benar ingin bekerja sebagai anggota sebuah tim.

2--Pilihlah tim yang positif.

Agar anda dapat berperan secara positif, anda perlu lingkungan yang positif.
Bekerjalah dalam sebuah organisasi yang anda percayai. Carilah organisasi atau perusahaan yang memiliki catatan prestasi terbaik dalam inovasi, tanggung jawab sosial dan bidang tertentu yang anda minati. Carilah perusahaan yang mencanangkan misi yang sama dengan nilai-nilai yang anda percayai.

3--Buatlah komitmen positif terhadap pekerjaan anda.

Komitmen ini menguatkan anda meski sedang menghadapi kesulitan. Bila anda percaya dengan misi yang diemban oleh perusahaan anda, maka berjanjilah untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi tim kerja anda.

4--Jelaskan tujuan-tujuan pribadi anda.

Berbicaralah dengan pimpinan anda, dan sampaikan tujuan-tujuan pribadi anda agar mereka bisa menyetujui sasaran-sasaran pribadi anda. Buatlah kontrak yang jelas dengan tim dan pimpinan anda. Pastikan pula anda mendapat dukungan yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini.

5--Lakukan pekerjaan yang bermutu tinggi.

Anda telah memiliki dukungan dari pimpinan anda, maka tugas anda kini adalah mewujudkannya dalam bentuk pekerjaan yang bermutu tinggi. Ini akan mendorong terciptanya suasana yang menyenangkan dan dapat mengembangkan bakat anda.
Dengan melakukan pekerjaan yang bermutu tinggi, anda memuaskan diri anda sendiri, tim, pimpinan sekaligus customer anda.

6--Kembangkan peranan positif dalam tim.

Perjelas apa kekuatan anda agar anda bisa melakukan cara terbaik bagi tim anda. Berbicara pada atasan anda mengenai tujuan-tujuan anda, lalu wujudkan itu menjadi hasil yang baik. Memang terkadang anda tidak bisa mengembangkan peran anda dalam tim. Mungkin ini disebabkan oleh pimpinan anda yang tidak sepenuhnya yakin akan kemampuan anda, maka bekerjalah di waktu senggang untuk melakukan yang terbaik. Carilah kesempatan agar anda bisa menggunakan kekuatan anda. Dalam hal ini peran pemimpin diperlukan untuk mendorong anda agar bisa menunjukkan bakat yang anda miliki, bukan mendiamkannya.

7--Doronglah anggota tim lain.

Ini menuntut anda untuk mengembangkan kemampuan hubungan antar manusia di samping ketrampilan teknis. Sebagai anggota tim, anda dapat melakukan pekerjaan dengan lebih baik bila mereka mengetahui cara mendukung para kolega anda. Berilah kesempatan bagi anggota tim untuk memperbaiki diri. Jadilah pembimbing bagi para anggota tim yunior.

8--Temukan penyelesaian positif terhadap berbagai masalah.

Kembangkan budaya dimana anggota tim dapat membantu anggota tim lainnya dengan mengusulkan berbagai kemungkinan pemecahan masalah. Sesungguhnya karyawan lebih mengetahui pekerjaannya daripada atasannya, maka doronglah anggota tim menyelesaikan masalahnya sendiri secara positif.

9--Raihlah tujuan pribadi anda.

Tugas pertama anggota tim adalah mencapai sasaran pribadinya. Perhatikan lintasan anda, bukan lintasan orang lain. Ini berarti anda harus memiliki tujuan yang jelas, bekerja keras, dan menyelesaikan pekerjaan anda dengan baik.

10--Bantulah tim meraih tujuannya.

Singsingkan lengan baju. Ulurkan tangan anda. Pada saat krisis tiba, yang diperlukan dari setiap anggota tim adalah membantu tim sepenuhnya, menghadapi tantangan dan menyelesaikan krisis.

Perhatikan kembali sepuluh langkah di atas, dan tanyakan pada diri anda sendiri:

- Bagaimana rasanya menjadi anggota suatu tim?
- Apakah menjadi anggota tim adalah tepat bagi anda?
- Apakah anda bisa bekerja dalam tim dan melakukan pekerjaan kreatif?

Bila anda menjawab "tidak", maka pikirkan sekali lagi. Jangan habiskan waktu anda untuk melakukan sesuatu yang bagus namun gagal mendorong orang lain dalam tim anda. Terimalah tanggung jawab untuk kepentingan masa depan anda sendiri. Bergabunglah dengan tim yang benar-benar anda inginkan, lalu bulatkan tekad untuk menjadi anggota tim yang baik.

(Mike Pegg, Positive Leadership)

Senin, 16 November 2009

KERJA SAMBIL KULIAH

Tanya: Ada masalah yang ingin saya tanyakan, bagaimana caranya membagi waktu yang paling baik antara urusan kantor dengan pendidikan. Soalnya selain bekerja saya juga masih nyambi kuliah malam, kadang-kadang saya suka pesimis, bisa berhasil enggak nyelesaiin pendidikan. Tolongin dong, gimana caranya agar saya sukses di pekerjaan sama urusan kantor? (Pj)

Jawab: Senang sekali bisa berkenalan dengan anda yang bekerja dan sembari kuliah (atau kuliah sembari kerja?). Pertama, mbok jangan pesimis lha. Tetaplah optimis, percaya, dan penuh tekad untuk menyelesaikan kuliah dengan baik dan mengerjakan tugas-tugas kerja dengan baik pula. Itu kunci paling utama. Bila anda mulai pesimis, maka semangat anda akan luntur. Bila semangat sudah merosot, bukan hanya kuliah yang berantakan, tetapi kerja pun akan terbengkalai. Kedua, bersiap-siaplah untuk "hidup penuh penderitaan", ceile! Ada harus mau berkorban. Tidak ada banyak waktu untuk berleha-leha. Kurangi kenikmatan-kenikmatan, tetaplah teguh untuk melaksanakan keduanya dengan baik. Toh, anda hanya perlu beberapa tahun saja untuk menyelesaikan
kuliah bukan? Malah semestinya anda bersyukur masih mempunyai kesempatan kuliah dan bekerja. Dan, kesempatan ini harus dipenuhi sebaik-baiknya. Tetaplah berpandangan positif mengenai tujuan dari pilihan anda ini.

Ketiga, persiapkan kondisi fisik anda dengan baik. Cukupkan istirahat anda, konsumsilah makanan yang sehat dan seimbang, bugarkan tubuh dan pikiran anda. Keempat, atur waktu dengan baik. Selesaikan pekerjaan kantor di kantor. Jangan biarkan anda menunda pekerjaan karena itu akan menyulitkan anda keesokan harinya. Tuntaskan pekerjaan hari ini di hari ini. Demikian pula, dengan tugas-tugas kuliah anda, segera selesaikan seusai jam kuliah. Bila perlu gunakan waktu libur anda untuk menunaikan tugas-tugas kuliah. Jangan tergoda untuk menghabiskan setiap waktu libur dengan "rekreasi".
Ingat, anda khan sudah bertekad untuk "hidup sengsara"? Tetapi sekali-kali menyegarkan pikiran boleh lah.

Keempat, mintalah bantuan dari orang lain. Paling utama, mintalah doa restu dari orang tua agar mereka senantiasa memberikan dorongan moril untuk menguatkan diri anda. Minta bantuan dan pengertian dari atasan serta rekan-rekan kerja anda. Adakalanya anda perlu waktu untuk mempersiapkan ujian, menyelesaikan tugas, dan lain sebagainya, maka mintalah tolong dari rekan sekerja anda, atau delegasikan dengan baik. Berbaik-baiklah dengan rekan kerja anda. Sebaliknya, bila waktu kuliah anda luang, jangan segan untuk bekerja lembur untuk mengejar ketinggalan kerja anda. Terakhir, jangan lupa banyak-banyak berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mohon kekuatan dan dimudahkan setiap urusan. Tenangkan diri anda dalam doa anda. Selamat
bekerja dan kuliah. Bila anda berminat berkenalan dengan beberapa rekan yang juga sedang/pernah mengalami hal seperti anda, anda bisa kami perkenalkan dengan beberapa rekan kami. Mereka ada yang bekerja sebagai staff, pimpinan bagian, bahkan pimpinan perusahaan. Jangan mau kalah dengan rekan-rekan kami yang tak sedikit yang sudah berumur ini.

Senin, 09 November 2009

TANDA-TANDA ORANG YANG BERPOTENSI MENDUDUKI JABATAN PUNCAK

Mortimer R. Feinberg, Ph.D.

Pemimpin-pemimpin perusahaan yang terbaik, yaitu orang-orang berkedudukan tinggi, ialah orang yang mempunyai sifat sebagai orang yang mempunyai motivasi dan dorongan-dorongan yang kuat, yaitu orang yang dapat bekerja dengan keras, dan yang dapat melakukan beberapa pekerjaan yang berlainan secara sekaligus - walaupun tidak selamanya pekerjaan itu dilakukan dengan baik. Pendeknya, mereka selalu dinamis dan bersemangat. Napoleon dapat melakukan tujuh macam pekerjaan sekaligus.

Saya belum pernah melihat seorang eksekuif top yang bersifat pasif, suka termenung, dan sering sakit-sakitan, serta ragu-ragu. Menurut saya, Hamlet, dalam cerita tulisan Shakespeare, adalah orang yang selalu bimbang, tidak akan pernah menjadi pemimpin atau eksekutif yang baik. Memang banyak orang yang berkepribadian seperti Hamlet, tetapi mereka tak akan pernah menempati kedudukan penting.

Berikut ini adalah tanda-tanda orang yang mempunyai potensi untuk menduduki jabatan dan tanggung jawab yang penting.

1--Dedikasi.

Mereka mempunyai semangat pengabdian seluruhnya. Mungkin pada suatu waktu, anda memintanya untuk melaksanakan suatu tugas, misal, pergi ke luar kota yang jauh. Dia tidak akan menolak tugas itu, kecuali dengan alasan yang kuat, seperti karena istri atau anaknya sakit. Alasan-alasan atau dalih untuk melaksanakan tugasnya akan sangat kecil sekali. Sebagian besar waktu dan tenanagnya, dicurahkannya untuk memajukan perusahaan atau organisasi dimana dia bekerja.

2--Kompetitif.

Eksekutif yang baik tak akan membiarkan dirinya kalah. Mereka selalu mengevaluasi dan menilai dirinya sendiri untuk persaingan itu, dan akan berjuang untuk melakukan yang lebih baik dalam setiap kesempatan yang ada. Mereka akan selalu mengubah taktik dan usaha untuk mencapai hal yang lebih baik. Seorang eksekutif, yaitu seorang "self-made man" menceritakan kepada saya waktu dia sedang mulai berjuang untuk naik: "Di sini saya seperti berada di antara kaki-kaki gajah saja, dan saya hanyalah seekor tikus. Dengan mudah mereka akan membunuh saya. Dengan suatu insiden atau kebetulan saja, saya akan celaka." Lalu saya bertanya padanya, "Lantas apa yang akan
anda lakukan untuk menghindari akibat buruk seperti yang anda takutkan?"
Jawabnya, "Saya akan berusaha menjadi gajah juga."

3--Kejujuran.

Jujurkan ia terhadap dirinya sendiri? Ibarat: apakah ia mengenakan pakaian mahal, namun pakaian dalamnya bolong dan kotor? Apakah ia sadar akan kelemahan-kelemahannya sendiri? Sampai dimana kejujurannya dengan anda? Apakah apa yang dikatakannya sesuai dengan apa yang dilakukannya? Apakah cita-cita yang diangankannya sangat jauh dari kenyataan atau telah berada di depan mata untuk dicapainya? Jika dia menjawab, "Memang pekerjaan saya waktu itu tidak begitu baik, namun yang akan datang saya akan bekerja dengan lebih baik," maka itu adalah pertanda bahwa dia jujur terhadap dirinya sendiri.

4--Realistis.

Kakinya berpijak di muka bumi. Dia tidak berangan-angan atau bermimpi untuk menjadi besar. Kalau dia hanya melihat yang besar-besar dan mengabaikan bagian-bagian yang lebih kecil, maka dia akan menghadapi kesukaran. Dia sangat teliti dan bersungguh-sungguh dalam melakukan langkah-langkah kecil meski keuntungan yang diperolehnya pun kecil.

5--Dewasa.

Dia sadar dan mengetahui, bahwa masa depannya sendiri akan sangat tergantung dan bertalian dengan apa yang terjadi terhadap orang lain. Dia sanggup menghentikan seseorang, orang yang tidak ada atau sedikit sekali memberikan sumbangan pada perusahaan. Dia menghormati perbedaan-perbedaan fikiran dan pendapat orang. Dia tidak akan mencampuradukkan politik ke dalam kantor dan perusahaan. Dia menolak untuk hanya memperalat atau memanipulasi orang. Dia sabar dan, bila perasaannya terluka dia segera tenang dan pulih kembali.

Akhirnya seseorang yang mempunyai potensi yang baik untuk menjadi pemimpin perusahaan adalah orang yang dapat menangani berbagai ragam persoalan yang mendesak. Seorang presiden dari perusahaan di New York menjelaskan hal ini dengan mengatakan, "Setiap orang bisa melakukan sesuatu pekerjaan dengan baik, apabila anda memberikannya hanya satu tugas tertentu dengan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas itu. Tetapi, bila seseorang itu tidak mau memberikan perhatian atau usahanya terhadap sesuatu yang lain, sampai sesuatu masalah atau tugas-tugas yang kecil belum mendapat pemecahan atau penyelesaian - meski sesuatu itu sangat mendesak sekali - maka sikap itu selalu akan menggusarkan hati. Jenis orang seperti ini takkan pernah
mengetahui kalau api sedang berkobar di kamar sebelahnya, kecuali kalau
perusahaan itu seluruhnya sudah terbakar habis."

(Mortimer R. Feinberg, Ph.D., The Effective Psychology for Manager)

Selasa, 03 November 2009

TIPS BERSIKAP DI TEMPAT KERJA BARU

Apakah anda baru pindah kerja dan memulai karier di tempat baru? Jangan biarkan hari pertama anda berlalu meninggalkan kesan yang kurang baik. Segera mulai hari pertama anda dengan sikap kerja yang tepat dan profesional. Start yang baik adalah modal untuk melangkah lebih jauh lagi. Ada baiknya anda mengikuti tips berikut ini.

1--Bila mungkin, mulailah pada pertengahan minggu.

Ini adalah saran yang diberikan oleh mereka yang telah berpengalaman. Bila anda boleh menentukan kapan mulai bekerja, pilihlah hari Rabu atau Kamis. Hari Senin sepertinya baik untuk memulai, namun biasanya para karyawan cukup disibukkan oleh pekerjaannya masing-masing. Ini bisa membuat anda merasa tak nyaman atau diacuhkan.

2--Datanglah lebih awal.

Dapatkan kesan baik dengan datang lebih awal. Gunakan beberapa menit tersebut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Anda takkan mendapatkan simpati bila anda datang terlambat.

3--Kenakan busana yang pantas dan sesuai dengan kebiasaan di tempat baru.

Anda sebaiknya mencari tahu bagaimana kebiasaan berbusana di tempat baru sebelum anda mulai bekerja. Sesuaikan busana anda dengan kebiasaan di tempat baru. Paling aman, anda mengenakan busana konservatif namun cukup nyaman dipakai. Hindari mengenakan busana dan perhiasan yang mencolok.

4--Bersikaplah ramah, hangat, dan terbuka saat berkenalan.

Saat berkenalan dengan rekan-rekan baru anda, bersikaplah ramah. Jabat tangan dengan hangat. Berikan senyum tulus dan tatapan mata yang memohon penerimaan anda. Jangan ragu untuk membungkukan badan anda sedikit sebagai tanda kerendahan hati anda. Sebut nama anda secara jelas, dan sampaikan rasa terima kasih anda bisa bergabung di perusahaan ini sekaligus minta bantuan agar anda bisa menyelesaikan tugas-tugas dengan baik. Lakukan itu secara wajar dan tidak berlebihan.

5--Kenali orang-orang dan jabatannya, serta kebiasaan-kebiasaan di sana.

Segera kenali orang-orang. Hapalkan baik-baik nama dan jabatan mereka.
Pelajari dengan cepat bagaimana karakter setiap orang. Bergaullah dengan baik sesuai dengan kedudukan dan karakter masing-masing orang di sana. Pelajari pula kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di tempat baru. Segeralah menyesuaikan diri dengan kebiasaan di sana. Jangan biarkan anda menjadi canggung.

6--Bertanyalah.

Tanyakan pada atasan apa-apa yang semestinya anda kerjakan. Dengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh rekan kerja anda. Lalu ikuti petunjuk mereka. Jangan menduga-duga hasil kerja yang diharapkan. Bertanyalah hingga anda jelas benar apa yang harus anda lakukan.

7--Jangan sok tahu

Hindari memberikan komentar yang tak perlu, baik itu mengenai orang-orang dan pekerjaan. Bila anda melihat ada yang kurang beres dalam pekerjaan di sana, simpan saja tenaga anda dan keluarkan jurus pada waktunya yang tepat.

8--Bekerjalah dengan baik.

Sikap terbaik adalah bekerjalah dengan baik. Jangan tergoda oleh kelonggaran-kelonggaran yang mungkin ditawarkan oleh rekan anda. Mereka yang telah lama kerja di sana mungkin merasa boleh melonggarkan aturan, namun itu tidak berlaku bagi pegawai baru. Jangan pula merasa dalam masa percobaan anda boleh melakukan kekeliruan-kekeliruan. Bersikaplah profesional dan lakukan yang terbaik.

Rabu, 21 Oktober 2009

MENJADI PEMIMPIN POSITIF

Mike Pegg

Ada sepuluh langkah yang mendorong orang bisa saling bekerja sama dengan baik. Yaitu; bila mereka memiliki pemimpin yang positif; mereka memiliki anggota tim yang positif; mereka membangun budaya yang positif; mereka menetapkan tujuan yang positif; mereka memperoleh komitmen yang positif untuk mencapai tujuan; mereka memiliki pelaksana yang positif; mereka
melakukan pekerjaan yang positif; mereka membangun reputasi yang positif;
mereka memperoleh hasil yang positif; dan mereka terus membangun tim yang positif dan berhasil.

1--Anda dapat membangun kepemimpinan tim yang positif.

Mulailah dengan membangun suatu tim yanng unggul di tingkat puncak. Mengapa?
Karena sekarang ini tidak seorang pun memenuhi syarat untuk menjadi seorang pemimpin di dunia. Hanya ada sedikit pemimpin yang sempurna. Tim puncak membutuhkan orang-orang berikut ini:

Seorang visioner, yang mampu melihat apa yang dapat dicapai serta merumuskan visi dengan jelas.

Seorang manajer manusia, yang mampu membangkit keberanian, mempersatukan, dan memotivasi. Ia menjelaskan pesan-pesan tim puncak sekaligus mendengarkan suara bawahan.

Seorang pelaksana, yang mampu mewujudkan visi yang bagus menjadi tindakan nyata dan meraih hasil positif. Seorang visioner mengerti apa yang harus dikerjakan, sedangkan seorang pelaksana mengerti cara mengerjakannya.

Seorang manajer keuangan, yang mampu menjaga agar semua orang berpijak pada kenyataan dan mendorong orang lain agar membelanjakan uangnya secara bijak.

Seorang komunikator, yang mampu berhubungan dengan orang di dalam dan di luar organisasi. Mereka berusaha memelihara reputasi organisasi sehingga organisasi tersebut menarik bagi orang-orang yang berbakat.

2--Anda dapat memiliki anggota tim yang positif.

Keberhasilan pemimpin tergantung pada bawahannya. Para pemimpin harus menarik, mengembangkan dan mempertahankan bawahan yang baik. Ada tiga kriteria anggota tim yang anda butuhkan: mereka harus positif, profesional, dan berhasil.

3--Anda dapat membangun budaya yang positif.

Pemimpin harus memastikan bahwa budaya mereka memiliki nilai dan visi yang tepat, yang dapat mendorong orang untuk bergairah dan mencapai hasil nyata. Budaya yang sehat mendorong orang untuk berani berusaha dan meraih keunggulan.

4--Anda dapat menetapkan tujuan yang positif.

Pemimpin harus memastikan bahwa tim mereka berjalan menuju tujuan yang tepat. Mereka harus mulai melihat dari kekuatan dan kelemahan, peluang dan tantangan; menentukan sasaran kelompok; lalu menjelaskan rencana tindakan.

5--Anda dapat memperoleh komitmen untuk mencapai tujuan yang positif.

Pemimpin harus meluangkan waktunya mengenal para anggota timnya, menunjukkan pada mereka apa yang sedang terjadi di dunia, meminta keterlibatan mereka dalam proses organisasi sehingga tumbuh rasa turut memiliki. Pemimpin harus memberi kesempatan pada anggota timnya untuk mendiskusikan gagasan-gagasannya, terlibat dalam menyusun strategi dan meraih keberhasilan nyata.

6--Anda dapat memiliki para pelaksana yang positif.

Kualitas suatu organisasi seringkali tergantung pada kualitas dari pelaksananya. Mereka adalah pengubah visi menjadi kenyataan. Pemimpin memerlukan orang-orang yang mempunyai kredibilitas di lapangan yang bisa membuahkan hasil yang nyata. Tim puncak hanya bisa mencapai keberhasilan jika pelaksananya baik.

7--Anda dapat meyakinkan orang untuk melakukan pekerjaan yang positif.

Tidak cukup bagi pemimpin untuk menyusun strategi yang tepat, pemimpin harus mendorong staffnya agar mempunyai keinginan memperoleh hasil kerja yang hebat. Salah satunya dengan memperkenalkan program kualitas. Sampaikan pesan anda dengan jelas, berikan teladan, dan peliharalah kredibilitas anda. Mulailah dengan perbaikan manajemen manusia, ketahuilah apa pengetahuan, bakat, dan gagasan mereka agar bisa dimanfaatkan bagi kepentingan perusahaan. Masukkan usulan staff anda dalam pekerjaan tim anda. Yakinkan bahwa apa yang merekan lakukan adalah sesuatu yang akan berhasil.

8--Anda dapat membangun reputasi yang positif.

Raihlah reputasi positif perusahaan dengan memperhatikan karyawan, produk, profit, dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Pemimpin yang hanya memperhatikan karyawan, produk, dan profit akan sangat memberikan keuntungan bagi perusahaan, namun agar menjadi perusahaan yang baik, pemimpin harus memperhatikan nilai dari tanggung jawab yang ditunjukkan pada masyarakat dan lingkungan sekitar. Perusahaan yang berkenan memberikan sponsor pada berbagai kegiatan masyarakat dapat menciptakan
kemauan baik dan memperbaiki keadaan organisasi.

9--Anda dapat memperoleh hasil yang positif.

Hasil yang baik diperoleh bisa pemimpin berkenan melakukan pendelegasian tanpa melepaskan tanggung jawabnya. Tugas pemimpin adalah mendidik bawahannya agar dapat memanfaatkan pendelegasian itu dengan baik. Pemimpin yang baik harus bisa memastikan orang-orangnya untuk memfokuskan diri pada hubungan yang tepat, membuahkan hasil serta menjamin kelangsungan usaha.

10--Anda dapat melanjutkan membangun tim yang positif.

Anda boleh memilih untuk berkembang atau mati. Pemimpin yang baik menyadari bahwa tidak ada yang lebih berbahaya dan menipu selain keberhasilan yang diraih kemarin. Tim yang unggul selalu menghadapi tantangan bila ingin maju. Untuk itu pemimpin harus melakukan investasi dalam riset dan pengembangan serta mendidik orang-orang untuk melihat berbagai kecenderungan di dunia. Mereka juga harus menunjukkan berbagai keuntungan akibat adanya perubahan. Perubahan sikap dan pola pikir seringkali lebih penting ketimbang perubahan
tehnis. Orang yang bisa menerima alasan untuk berubah lebih dapat menanggapi perubahan secara tepat. Mereka pun akan menggunakan teknologi yang tepat dan memberikan hasil yang tepat pula.

(Mike Pegg, Positive Leadership)

Senin, 12 Oktober 2009

KATA BOS, SAYA INI PEMBOSAN

Tanya: Dalam pembicaraan terakhir dengan atasan, beliau mengkritik saya yang pembosan dan senang mencoba berbagai hal baru untuk memperoleh tantangan. Katanya, orang dengan banyak bakat tidak akan menjadi apa-apa pada suatu hari kelak. Ia menyarankan saya memperdalam satu bidang yang nantinya menjadi spesifikasi. Bagaimana menurut editor? Terima kasih. (R)

Jawab: Saran agar anda memperdalam suatu bidang tertentu yang menjadi spesialisasi anda ada benarnya juga. Ini membuat anda menjadi efektif dan lebih produktif dalam bekerja, serta memudahkan perusahaan untuk menempatkan anda. Menurut kami, saran atasan anda ditujukan demi kebaikan karier sekaligus memenuhi tujuan perusahaan. Coba perdalam apa yang sedang anda minati sekarang ini. Kerjakan dengan baik, bahkan yang terbaik bila perlu.

Mungkin anda berdalih, bagaimana kita bisa mengetahui bidang yang benar-benar menjadi minat dan pilihan spesialisasi kita bila tidak mencoba berbagai macam hal yang menarik. Dalih ini bisa diterima selama anda mengakui anda sedang dalam proses pencarian bidang yang benar-benar anda minati. Tugas anda adalah memahami mana-mana kegiatan yang didorong oleh proses pencarian itu, dan mana kegiatan yang diperlukan demi penyelesaian tugas-tugas kerja. Dua hal ini tentu tidak selalu bisa berjalan beriringan. Karena kita sedang berbicara mengenai aspek pekerjaan, maka semestinya anda mendahulukan kepentingan perusahaan, kemudian berasyik-asyik dalam pencarian
anda itu. Dengan demikian, atasan anda lega karena tujuannya tetap terpenuhi sehingga beliau tidak keberatan menyediakan waktu bagi anda untuk melakukan ini dan itu yang menantang.

Mari kita bicarakan sedikit mengenai anda yang katanya "pembosan" itu. Apakah menurut anda sendiri, anda adalah seorang yang pembosan? Orang lain menganggap anda pembosan karena melihat anda cepat sekali berpindah dari satu bidang ke bidang lain. Padahal mungkin anda menganggap diri anda sedang merangkai-rangkai "puzzle" yang berserakan untuk satu tujuan yang besar. Ambil contoh: kami mempunyai minat besar untuk mengajak rekan-rekan sekerja untuk sama-sama membangun perusahaan dan karier yang baik. Dalam perjalanannya, kami harus mempelajari banyak hal yang mungkin sama sekali tak menyentuh aspek tersebut, misal, tehnologi internet, desain newsletter,
penulisan artikel, dan lain sebagainya. Karena semuanya terkait dengan satu tujuan besar, maka dengan senang hati kami melakukannya. Jadi, coba cari tahu dalam diri anda sendiri, apa yang sebenarnya menjadi tujuan besar anda itu. Temukan "gambar" besar itu dan satukan "puzzle-puzzle" yang berserakan. Tunjukkan pada atasan "gambar" besar yang ingin anda satukan itu. Bila ini dipahami oleh atasan, mungkin sekali beliau akan mengarahkan dan memberikan jalan yang lebih besar untuk anda.

Selain itu, coba amati apakah ada hal lain yang menyebabkan anda mudah berpindah-pindah dari satu bidang ke bidang lain. Misal, kurangnya ketrampilan, tidak memadainya fasilitas, waktu yang tak cukup, dan lain sebagainya. Bila anda tidak mampu mengatasi tantangan karena tidak cukup ketrampilan, anda cenderung untuk meninggalkannya. Coba tingkatkan ketrampilan tehnis anda (dengan konsekuensi, anda berpindah ke bidang baru.) Minta bantuan dan dukungan dari atasan anda.

Menurut kami, bila kita membicarakan sesuatu yang tehnis dan mempertimbangkan aspek nilai waktu, kita cenderung untuk harus menjadi seseorang yang spesialis. Misal, anda harus memilih untuk menjadi tehnisi komputer yang baik atau akuntan yang baik pada satu waktu tertentu. Tidak mudah untuk menjadi tehnisi komputer dan akuntan yang handal dalam waktu yang bersamaan. Ini sesuai dengan tuntutan agar anda menjadi efektif dan produktif. Namun jika kita berbicara mengenai aspek "judgment" atau
kebijakan, maka tidak ada aspek-aspek spesialisasi di dalamnya. Dalam hal ini kita harusnya menjadi seseorang yang "generalis". Misal: memuaskan pelanggan adalah hal yang harus dipegang oleh semua orang, baik tehnisi komputer atau akuntan. Selamat bekerja.

Senin, 05 Oktober 2009

BELAJAR MEMIMPIN

Collin Powell dan Joseph E. Persico

Pada awal karirku di AD Amerika Serikat, aku ditugaskan di Fort Benning, Georgia, dan menjalani Latihan Lanjutan Penerbangan selama satu bulan. Suatu malam, kami harus terjun payung dari sebuah helicopter, sesudah berjalan seharian penuh. Saat itu kami telah kecapaian. Aku adalah perwira senior yang turut di pesawat tersebut. Dalam kebisingan suara mesin heli, aku memerintahkan kepada setiap orang untuk memeriksa ulang tali statis - kabel yang dikaitkan pada lantai, yang akan membuka parasut pada saat kami terjun.

Seperti nenek-nenek cerewet, aku berjalan diantara prajurit-prajurit yang berhimpitan, memeriksa langsung setiap tali. Yang mengejutkan, ada sebuah kait yang longgar. Aku menunjukkan tali yang longgar itu pada wajah orang tersebut. Dia terkejut. Salah-salah dia akan terjun dan jatuh seperti sebuah batu. Dia mengucapkan terima kasih. Pelajaran tersebut jelas. Saat-saat stress, ketidakpastian dan kelelahan adalah saat-saat dimana kesalahan-kesalahan terjadi. Ketika semua dalam keadaan surut, pimpinan harus hati-hati dua kali lipat. "SELALU MEMERIKSA HAL-HAL KECIL" menjadi salah satu peraturanku.

MEMBUAT KEPUTUSAN YANG SULIT

Pada tahun terakhirku di New York City College, aku diangkat menjadi pimpinan kelompok Pershing Rifles, bagian dari kelompok mahasiswa Reserve Officers' Traning Corps. Tahun sebelumnya, team latihan kami telah memenangkan kejuaran biasa dan kejuaraan trick pada kompetisi regional. Aku telah memimpin team latihan saat itu, jadi aku mengambil team biasa dan menugaskan John rekanku untuk memimpin team trick.

Dari awal, aku telah merasa bahwa team trick kehilangan kekuatannya. John, biasanya seorang pemimpin yang baik, menyurut karena masalah pribadinya. Anggota team mengeluh bahwa pikiran John tidak pada pekerjaannya. Aku ingin menugaskan rekan lain untuk team tersebut, tetapi John terus menerus mengatakan "Aku dapat melakukannya". Sayangnya John gagal. Team biasa kami menang tahun itu, tetapi kami kalah pada kompetisi trick. Aku marah, terutama pada diriku sendiri. Aku telah mengecewakan team dan John juga, dengan membiarkannya terus berjalan dengan dasar yang belum siap.

Hari itu, aku belajar bahwa SEBAGAI PEMEGANG WEWENANG, BERTUGAS MEMBUAT KEPUTUSAN, TIDAK MASALAH BETAPAPUN SULITNYA. JIKA ADA YANG SALAH, PERBAIKI.
Seorang pimpinan tidak dapat membuat pengorbanan besar dalam situasi yang buruk hanya karena demi perasaan seseorang.

JANGAN MENGHUKUM SETIAP KESALAHAN

Dalam salah satu tugas pertamaku, sebagai Perwira Muda Infantry, aku dikirim ke Infantry ke 48 dekat Frankfurt, Jerman. Saat itu, senjata utama kami adalah Meriam Atom 280 mm. Dikawal oleh regu-regu infantry, meriam-meriam tersebut terus menerus dipindah-pindahkan disekeliling hutan diatas truk, sehingga pihak Soviet sulit mengetahui posisi dari meriam tadi. Suatu hari Kapten Tom Miller menugaskan reguku untuk mengawal sebuah meriam tersebut.
Aku mempersiapkan anak buahku, dan mengendarai jeep-ku. Aku belum jauh ketika kusadari pistol 45ku hilang. Aku terkejut. Di AD, kehilangan senjata adalah masalah serius. Aku tidak punya pilihan lain kecuali menghubungi Kapten Miller di radio dan memberitahukan kehilangan tersebut.

"Apa ?!?" katanya tidak percaya. Dia berhenti sejenak, kemudian menambahkan "Baiklah, teruskan misimu".

Ketika aku kembali, bimbang menghadapi keputusan untukku, Kapten Miller memanggilku. "Aku punya sesuatu untukmu", katanya memberikan pistolku. "Beberapa anak di desa menemukannya pada saat terjatuh dari kantung pistolmu".

"Anak-anak menemukannya ?" Aku merasa terkejut sekali.

"Yeah", katanya, "Untungnya mereka hanya menembakkan satu peluru sebelum kami mendengar suara tembakan dan mengambil pistol itu". Kemungkinan bahaya yang ditimbulkan membuatku lemas. "Demi Tuhan, Nak, jangan membiarkan hal itu terulang lagi".

Dia menjalankan mobilnya. Aku memeriksa magazen pistolku dan ternyata masih penuh. Pistol tersebut belum ditembakkan sekalipun. Kemudian aku mengetahui bahwa pistol itu terjatuh ditendaku sebelum aku berangkat. Kapten Miller telah mengarang cerita tentang anak-anak desa agar aku khawatir dan berhati-hati sekali. Pada saat sekarang AD mungkin akan melakukan penyidikan, memanggil pengacara, dan kemungkinan besar akan memberikan tanda buruk pada catatanku. Kapten Miller memberiku kesempatan untuk belajar dari kesalahanku.

Contoh yang diberikannya untuk kepemimpinan yang rapi tidak terhilangkan padaku. TAK SEORANGPUN NAIK KEPUNCAK TANPA PERNAH TERGELINCIR. Jika seseoran g melakukan kesalahan, aku merasa tidak perlu menendangnya sebagai hukuman. Falsafahku adalah : Angkat mereka, bersihkan, dan gerakkan kembali.

BUATLAH TEAM-MU MERASA PENTING

Ketika aku menjadi ajudan batalyon dari suatu unit baru, pekerjaanku adalah menangani personel, surat dan "semangat dan kesejahteraan". Komandan-ku adalah Kolonel William C. Abernathy, yang menugaskan pasukan bekerja untuk keras tetapi juga membuat mereka bersemangat tinggi. Suatu hari, kolonel memintaku menyiapkan suatu sistem surat "Selamat Datang Bayi". Setiap prajurit yang istrinya melahirkan, akan menerima surat pribadi dari Komandan Batalyon yang memberi selamat kepada mereka. Surat kedua disampaikan kepada si bayi langsung. Abernathy memintaku agar surat-surat ity dikirimkan pada hari bayi tesebut dilahirkan.

Aku tidak antusias menjalankan tugas tersebut dan berlambat-lambat mempersiapkan sistem tadi. Ketika Abernathy mengetahui hal tersebut, dia menegurku dengan keras. Aku kembali ke kantorku dan mengerjakannya sebaik mungkin. Luar biasa, kami mendapat feedback yang positif. Para prajurit sangat terkesan dengan perhatian dari Abernathy. Para ibu menulis mereka merasa sangat dihargai dianggap sebagai bagian dari kehidupan AD suami-suami mereka.

Sebuah pelajaran baru didapat dan dicatat. CARILAH CARA UNTUK TURUN KE BAWAH DAN MENYENTUH SETIAP ORANG PADA SUATU UNIT. BUAT MEREKA MERASA PENTING DAN MENJADI BAGIAN DARI SESUATU YANG LEBIH BESAR DARI DIRI MEREKA.

JANGAN PERNAH MENGECILKAN ANTUSIASME

Saat itu Pk.01.00 suatu pagi yang dingin di bulan April. Aku adalah Letnan Kolonel yang membawahi suatu batalyon dalam suatu latihan di Korea. Selama seminggu, kami tidur disiang hari dan latihan di malam hari. Latihan berakhir. Para prajurit menunggu diangkut oleh truk kembali ke camp. Aku menerima berita bahwa Divisi kekurangan BBM untuk mengangkut batalyon kembali sejauh 20 mil ke camp. Kami harus berjalan kaki. Para prajurit dengan kesusahan berdiri dan mulai berjalan, terlalu capai untuk mengeluh. Kami sedang melalui suatu desa Korea, ketika Kapten Harry "Skip" Mohr melambat untuk berbicara padaku. "Hanya tinggal 12 mil lebih sedikit",
katanya bersemangat. "Jika kita berjalan cepat, kita dapat menyelesaikannya dalam 3 jam, dan kemudian meminta kualifikasi untuk E.I.B. (Expert Infantryman Badge (Badge / Tanda Infantry Ahli)"

Mohr mengetahui aku sedang mencoba memasukkan sebanyak mungkin prajurit untuk mendapatkan EIB, yang biasanya didapat oleh kurang dari satu diantara lima orang infantry. Kami telah memenuhi persyaratan latihan fisik, di samping pembacaan peta, navigasi dan test lainnya. Rintangan yang tersisa hanya pendakian 12 mil dalam 3 jam. Aku melihat medan yang turun naik.

"Skip, kamu bercanda" kataku padanya. "Pak, medan relatif datar hingga 2 mil terakhir. Saya mengetahui orang-orang kita. Mereka dapat melakukannya".

Perintah untuk berjalan sesuai irama terdengar di sana sini. Dalam dua jam kemudian, parka terbuka, keringat mengucuri wajah pada malam yang beku, dan gerakan dan bunyi nafas dari ratusan orang terdengar seperti angin. Kami menghadapi satu bukit curam terakhir sebelum masuk ke camp. Aku tidak mengetahui bagaimana orang-orang tersebut akan melakukannya.

Kemudian disebelah depan atas, aku mendengar suara-suara orang menghitung irama, hingga bukit seakan bernyanyi nyanyian batalyon. Ketika kami melalui gerbang memasuki camp, Komandan Jenderal keluar dari ruangannya mengenakan baju mandinya, keheranan ketika 700 orang lewat dihadapannya. Lebih banyak prajurit yang memenuhi kualifiaski EIB dari batalyon kami diantara 3 batalyon yang berdekatan. Dan pemandangan dari prajurit yang kelelahan yang kemudian meleburkan diri menjadi suatu kesatuan yang bersemangat adalah sebuah kenangan yang berharga dalam hidupku.

Selama bertahun-tahun dilapangan, aku mempelajari bagaimana prajurit AS bergerak. Mereka akan menggerutu jika diberi beban berat. Mereka akan besumpah lebih merasa senang berada ditempat lain. Tetapi pada sore hari, mereka akan bertanya dengan bangga "Baikkah apa yang telah kami lakukan?" Mereka menghormati PIMPINAN YANG MEMBERI MEREKA STANDAR YANG TINGGI DAN MEMBAWA MEREKA HINGGA BATAS KEMAMPUAN - selama mereka meilihat adanya tujuan yang berharga bagi mereka.

(Collin Powell dan Joseph E. Persico, Learning To Lead. Reader's Digest, August 1996. Diringkas dari "My American Journey", Collin Powell, Diterbitkan oleh Random House Inc. New York. Artikel ini dikirim oleh rekan: Ruben Kusnadi. Thanks a lot)